Senin, 12 Juni 2017

Cinta tak memiliki definisi yang pasti, hanya dapat dirasakan...

Cinta itu menakutkan. Berasal dari cinta maka akan muncul rasa egois yang akan menimbulkan kenegatifan untuk memiliki serta kecemburuan berlebih. Pada akhirnya rasa itu akan menyakiti diri sendiri, menyakiti dirinya bahkan orang-orang disekitar yang menyayangimu. Sebagian orang takut akan cinta karena rasa tersebut bagaikan penyakit yang dapat menjerumuskan dan berujung penyesalan.

Cinta itu kebahagiaan. Berasal dari cinta maka diri terbawa melayang oleh khayalan semu tak berujung, apapun bisa terjadi pada impian mereka yang dimabuk cinta meskipun hanya sebatas angan. Semangat menggebu saat bertemu dan pengorbanan menjadi kunci utama seperti kata orang bijak lainnya bahwa cinta itu juga bagian dari pengorbanan.

Cinta itu kesedihan. Berasal dari cinta diri akan tersadar bahwa dia datang hanya untuk menyapa dan bukan sebagai teman hidup. Dia datang hanya untuk membawa kebahagiaan fana dalam keheningan impian tetapi tidak untuk dimiliki. Dia datang untuk memberikan pelajaran bahwa untuk melawan keegoisan dibutuhkan perjuangan.

Cinta itu anugerah karena berasal dari Yang Maha Esa, ia tidak berdosa dan sekedar ingin menyapa setiap insan yang berhak untuk merasakannya.

Cinta itu terucap atau membisu. Hanya keikhlasan yang dapat membawa cinta untuk mengarungi keheningan. Meskipun terasa pahit tapi diri tersadar bahwa itulah jalan terbaik sebagai salah satu pedoman untuk mempersiapkan diri. Cinta menjadi kata yang terucap ketika tiba saatnya untuk diungkapkan, saat diri telah bersedia maka cinta akan menuntun waktu menuju impian yang terwuujud.

Sabtu, 28 Januari 2017

Berbagi Ilmu


ketika kita merasa telah memiliki ilmu yang melebihi orang lain,,, jangan bersikap sombong
lalu kita merasa lebih pintar dari orang lain,,,, jangan terlalu percaya diri
apakah ilmu yang dimiliki menjadi indikator kehebatan seseorang ? itu tidak benar karena untuk apa memliki ilmu yang tinggi dan bergelar panjang apabila sikap tidak dijaga.

Darimana kita tahu bahwa kita lebih berilmu dan lebih baik dari orang lain, sedangkan setiap manusia diciptakan berbakat dengan segala kelebihan serta kekurangannya. Sejatinya setiap manusia itu pintar dan baik dengan caranya sendiri, yakni tergantung dari setiap individu untuk mau mengembangkan atau menonjolkannya.

Kita memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi dan mampu mengimbanginya dengan sikap baik, lalu bagaimana cara membuktikannya ?
tiada manusia yang sempurna, sebaik-baiknya manusia yang berilmu haruslah membagi ilmu pengetahuannya pada sesama. Kita bisa memiliki pengetahuan yang baik karena ada orang lain yang mau membagi ilmunya ke kita seperti guru, dosen, teman, bahkan orang-orang yang tak sengaja kita temui dalam kehidupan kita. Pengalamanpun bisa menjadi guru terbaik pada kita, melalui setiap ketidaksengajaan yang ditemukan di dalamnya akan menjadi pelajaran berarti bagi masa depan.

Tidak harus menjadi seorang pengajar bila ingin berbagi ilmu, berbagi pengetahuan dengan teman bahkan keluarga adalah hal termudah yang bisa dilakukan untuk membagi ilmu. Tidak perlu dengan cara mengajari, cukup dengan melakukan perbicangan hangat yang diselipkan saran atau diskusi ringan mengenai kebaikan yang merupakan bagian dari ilmu. 
 
Berbagi pengetahuan tidaklah susah, bisa dilakukan dengan metode apapun. Diselingi canda tawa ataupun keseriusan. Namun, perlu diingat ilmu yang kita miliki akan berfaedah apabila dipelajari dengan ikhlas dan menjadi manfaat apabila dibagi dengan setulus hati. 

Minggu, 22 Januari 2017

Mungkin


Mungkin


Aku menulis tentangmu
Ketika matahari terbelenggu
Bulan dan bintang mengintip pun tak mampu
Hanya catatanku

Apa sih yang ku tulis
Sebuah ilusinasi akan ketidakjelasakan
Saat rasa bahkan tak mampu menjelaskan
Terus bergelut dengan pikiran hingga fajar

Tiada arti yang ku tulis
Mungkin hanya emosi licik
Mungkin cuma penantian tak berujung
Mungkin itulah diriku


Siapa ?

Dia adalah wanita biasa, sederhana, normal, tidak cacat, hanya malas berdandan.
Hanya dengan mendengarkan musik, maka Dia akan berkhayal nun jauh disana. Di tempat yang tak mungkin ada, dalam keadaan yang tak mungkin terjadi. Tapi mungkin khayalan memang demikian... liar dan tak terbatas.

Kadang Dia bermimpi, tapi mimpi tidak bisa diatur. Seringkali mimpi yang dialami mengkhianatinya bahkan berujung tangisan yang membasahi bantal serta membuat mata sembab.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang sering muncul “apakah ada yang ditakdirkan untuk Dia”. Bukan bagian dari khayalan, karena memang tidak bisa dibayangkan seperti apa bentuknya. Bukan bagian dari mimpi, karena memang tidak pernah muncul dalam mimpi..

Hanya bersaksikan keheningan malam,  yang menjadi pemicu kemunculan sebuah hasrat......

hanya tulisan

Jumat, 13 Januari 2017

Niat, usaha, doa.... Saling bersinergi

siapa sih yang tidak pernah mendengar atau membaca ketiga kalimat tersebut. Biasanya,  mereka yang baru memulai untuk melakukan perjuangan pasti akan berpedoman dengan ketiga kata tersebut. Itu benar, bahkan penulis pribadi tidak menyangkal kekuatan dan kebenaran dari ketiga kata ini. Namun, penting untuk diingat bahwa tiga kata niat, usaha, dan doa tidak bisa dipisahkan. selain itu, mungkin ada beberapa orang mempertanyakan manakah diantara ketiga kata tersebut yang harus dilaksanakan terlebih dahulu?

Setiap orang pasti memiliki perspektif yang berbeda untuk mendahulukan sesuatu, tetapi disini saya selaku penulis akan mengungkapkan perspektif pribadinya terhadap ketiga kata tersebut, tidak lupa bahwa perspektif ini juga pasti diintervensi oleh pengalaman. So, pengalaman memang pelajaran terbaik guys :)

Mungkin bagi sebagian orang, niat adalah yang terlebih dahulu diutamakan karena berdasarkan niat maka akan ada suatu dorongan untuk melakukan usaha. Kemudian disusul dengan usaha, apapun bentuk dari usaha anda itu diibaratkan sebagai kendaraan untuk melancarkan niat anda. Terjadi kerjasama antara keduanya yakni tanpa niat yang kuat, maka usaha anda tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Kalimat tersebut pasti sering anda dengar. Setelah berusaha semaksimal mungkin dengan dorongan niat yang kuat, baru kemudian disusul dengan doa atau tawakal karena apapun yang telah kita lakukan hanya Sang Pencipta yang tahu hasilnya sehingga kita wajib untuk berserah diri pada Yang Maha Mengetahui. 

Menurut penulis, niat memang didahulukan tetapi kita harus menyelipkan doa kita sembari berniat dengan harapan bahwa apa yang kita niatkan kelak akan menjadi basis dari perjuangan kita yang berguna dan halal. Dengan demikian, dalam melakukan suatu usaha kita akan merasa damai. Adapun menurut penulis yang juga penting adalah restu dari orang tua, seringkali orang tua tidak langsung merestui apa yang ingin dilakukan oleh anaknya melainkan sang anak harus terlebih dahulu menjelaskan apa maksud dari niatan mereka dalam berusaha. Seorang dosen saya pernah mengatakan bahwa kita memang harus menjelaskan pada mereka terlebih dahulu apa yang menjadi niat kita dan apa yang hendak kita lakukan untuk mewujudkannya, tetapi apabila mereka memang masih ragu buktikan pada mereka bahwa kamu bisa tanpa menyusahkan mereka. Dengan kata lain, kita tidak bisa sekedar berteori, tetapi langsung terjun ke lapangan. Bisa jadi itu nekat tapi tetap lakukan usahamu dengan terlebih dahulu dilaporkan pada orang tua dan jangan berjuang secara sembunyi2 dibelakang mereka karena keraguan orang tua, bisa diartikan sebagai kekhawatiran mereka padamu dan mereka yang belum seratus persen percaya atas dirimu yang berusaha sendiri tanpa bantuan mereka. Tapi percayalah teman, seragu-ragunya orang tua mereka pasti selalu mendoakan yang terbaik bagi anaknya dan kelak juga akan memberikanmu restu mereka selama yang kamu usahakan adalah sesuatu yang positif :)
Sembari kita berniat, kita juga harus berdoa, sembari kita berusaha kita juga berdoa agar apa yang kita lakukan diberi kelancaran, dan setelah usaha kita berakhir tetap berdoa, tawakal, serta bersyukur. Tidak mungkin segala sesuatu dapat berjalan tanpa kehendakNya. 

Mungkin ada orang yang hanya mengandalkan niat dan usaha, karena menurut mereka hal itu yang paling konkret atau dapat dirasakan bahkan dilihat oleh manusia. sedangkan doa, restu, dan bersyukur dianggap abstrak sehingga seringkali dilupakan

Tetap berpikir positif. Setiap orang punya perspektif masing-masing dan kepentingan sendiri-sendiri untuk mendahulukan sesuatu. 

hanya tulisan

Rabu, 12 Oktober 2016

Malas. penulis juga merasakan hal yang sama dan menyebut diri sendiri pemalas. Tapi jangan keburu khawatir, kerena menurut temuan dari sebuah studi yang berbasis di Amerika Serikat, orang dengan IQ tinggi adalah orang yang mudah bosan dengan sesuatu dan membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir (lifestyle.liputan6.com). Terlepas dari temuan ini sebenarnya hanya diri kamu yang merasakan adakah keuntungan dan kerugian dari malas tersebut ataupun dalam menginterpretasikan penyataan yang telah dipaparkan, apakah benar bahwa orang malas selalu pintar. jangan keburu percaya diri setelah sebelumnya kamu merasa khawatir akan kemalasanmu...

Berdasarkan pengalaman menulis, malas itu membuat kita merasa mood2an (mengikuti sesuai kondisi hati) untuk mulai melakukan kegiatan. Akibat dari rasa malas tersebut kegiatan atau pekerjaan kita tertunda hingga akhirnya baru akan dikerjakan ketika deadline. Tidak masalah deadline apabila pekerjaan kamu sedikit, tapi tidak berlaku pada orang yang panik karena dia akan merasa stress menghadapi tekanan deadline. Bukan berarti stress hanya menghampiri mereka yang panikan tapi hal tersebut juga berlaku untuk yang punya sifat santai (selow), bukan stress yang mereka hadapi melainkan pekerjaan yang dihasilkan belum tentu maksimal (mungkin karena terlalu santai). Intinya menunda perkejaan akan mengakibatkan dua hal yaitu stress dan pekerjaan menjadi tidak maksimal, penulis sendiri seorang yang mudah panik sehingga selain stress, hasil dari pekerjaan yang ingin diselesaikan juga menjadi tidak maksimal. Apabila kita menilik pada nasehat dari orang sekitar mengenai bagaimana menghadapi malas, kemungkinan besar mereka akan menjawab untuk jangan membiasakan malas untuk dimanja dan jangan menunda-nunda kerjaan akibat dari malas tersebut. Nasehat itu benar, tapi acapkali susah untuk dilaksanakan, karena kembali lagi bahwa malas itu hanya kamu yang tahu bagaimana levelnya. Menurut penulis yang juga seorang pemalas berpendapat, malas itu tidak bisa dihindari dan pernahkan terlintas pertanyaan dibenak kalian apa penyebab malas sehingga kita cenderung untuk menunda-nunda kegiatan kita?. Salah satu jawabannya yakni, kita selalu berpikir "aah aku masih punya waktu nanti dulu deh kerjainnya, santai dulu". apakah kamu yakin masih punya waktu, bila kamu memilki waktu seharusnya kamu bisa hentikan waktu untuk dirimu sendiri, tapi itu tidak mungkin... manusia pada dasarnya tidak akan pernah tahu kapan waktunya habis.

Jadi penulis menyimpulkan bahwa rasa malas itu susah untuk dihindari karena adanya berbagai mindset salah satunya karena merasa masih memiliki waktu luang. Berdasarkan pengalaman, apabila penulis merasa malas maka akan penulis lakukan kemalasan itu misalnya dengan bersantai atau sekedar berpikir, tapi jangan terbuai untuk terus malas karena akibat buruknya tidak hanya tertundanya pekerjaan kita melainkan tidak dikerjakan sama sekali, terus menyesal deh.... seimbangkanlah waktumu untuk bermalas-malasan kemudian tentukan waktu untuk segera bergerak. Yang terpenting hilangkan mindset masih punya waktu, kita tak pernah tahu bahwa waktu kita bisa saja habis saat itu juga oleh sang Pencipta. 

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempengrauhi pembaca untuk menjadi ambisius, hanya saja hidup itu harus seimbang. Penulis memberi saran berdasarkan pengalaman sendiri  bahwa sejatinya hidup itu harus seimbang walaupun terkadang sulit untuk dijalankan tapi setidaknya mulailah dari hal yang sederhana dan terpenting mulai yang terkait dengan diri sendiri.


Kamis, 21 Juli 2016

menjadi diri sendiri

Dia adalah seseorang yang cenderung tak ingin menceritakan kisah-kisah yang terjadi dalam kehidupannya dengan mudah ke orang lain ataupun orang-orang terdekat di rumah. Hal itu mungkin dikarenakan oleh dua faktor, yaitu tidak ditemukannya kenyamanan saat berkomunikasi dengan keluarga atau dengan teman dekat sehingga ia merasa masalah-masalah yang dimiliki dalam kehidupannya biarlah hanya dirinya dan Tuhan yang mengetahui. Yang pasti dia merasa dirinya sendiri dapat menjadi solusi atas hal yang menjadi kegalauannya, bukan berarti dia tak suka bersosialisasi, dia sangat menikmati hal-hal yang berkaitan dengan membangun silaturahmi yang baru dan menambah wawasan melalui hiruk-pikuk keramaian di luar sana, hanya saja dalam kesibukannya tetap terbesit keinginan untuk menikmati berharganya waktu untuk sendiri. Suasana hening dapat memberikan banyak inspirasi untuk berpikir dingin dalam penyelesaian masalah yang dihadapi, kesendirian menjadi waktu yang tepat untuk khusyuk dalam memohon petunjuk dari-Nya dan kesendirian dapat memotivasi dia untuk menjadi diri sendiri melalui kata-kata yang ia ucapkan untuk dirinya sendiri. 

jangan pernah takut untuk menjadi diri sendiri
setiap orang itu unik, termasuk dirimu sendiri
setiap orang mampu menginspirasi dengan caranya masing-masing
setiap orang dapat menonjol dengan egonya
setiap orang berhak percaya dengan dirinya sendiri

disaat tak ada satupun yang dapat kau percaya
maka tetap percaya pada Sang Pencipta dan dirimu sendiri

kapanpun kau ingin menjadi orang lain,
kau tidak akan pernah bisa menyembunyikan jati dirimu yang sebenarnya
kau adalah dirimu, kau dapat melakukan yang kau mau
bukan bermaksud menjadi egois
hanya saja, menjadi diri sendiri tetap yang paling nyaman

kata-kata itu selalu membayangi pikirannya, sebagai pengingat bahwa penyelesaian bisa saja berasal dari dirinya dan kesadaran bermula dari dirinya.

-hanya tulisan
Juliantis Nining